palu, 23/10/2013 Umat hindu merayakan hari raya kemenangan yaitu hari raya galungan dan kuningan tahun saka 1935. Galungan adalah hari kemenangan Dharma melawan Adharma yaitu pemujaan
terjadinya kemenangan kebenaran atas ketidakbenaran dengan restu Sang
Hyang Widhi Wasa, suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual
agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan
mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri
manusia.
Satu hari sebelum Galungan yaitu pada hari selasa, diadakan juga Upacara
pembersihan diri dan hari ini dinamakan hari Anggara Wage Dungulan atau
hari Penampahan di mana segala nafsu harus dihilangkan dan semua sifat
manusia yang tidak baik di tinggalkan untuk menyambut hari Galungan esok
hari dengan hati yang bersih dan suci lagi
untuk mempringati hari raya galungan warga menyimbolkan dengan memasang penjor sebagai tanda syukur atas kemakmuran yang di berikan oleh ida shang hyang widhi wasa. Penjor adalah Bambu yang menjulang tinggi dan melekung ini diibaratkan
sebagai gambaran gunung agung tempat suci para dewa bersemayam. Penjor
ini dihiasi dan terdiri dari kelapa ,pisang, tebu, padi, dan kain.ini
semua adalah perwakilan dari seluruh tumbuhan sandang dan pangan.
Pada esok harinya setelah Galungan pada hari kamis seluruh masyarakat
bali yang beragaman hindu bersama sama menikmati sisa sajian dan
melakukan pensucian dan sembahyang di rumah masing masing pada saat
fajar menyingsing dengan air wangi (kumkuman) dan air suci (tirtha).Lalu
saling berkunjung dan mendoakan keselamatan
“Jumat
Wage Kuningan” juga disebut hari Penampahan Kuningan. Sabtu Kliwon” disebut juga hari “Kuningan”. Pada saat upacara dan
memberikan sesajian hendaknya dilaksanakan pada pagi hari karena saat
tengah hari para dewata sudah kembali ke surga Saat ini Galungan
diperingati dengan meriah oleh seluruh umat hindu
suber informasi
adat/kebudayaan/hari-raya-galungan